Universitas Ahmad Dahlan
  • TENTANG UAD
  • KULIAH DI UAD
  • PENELITIAN & PENGABDIAN
  • KEHIDUPAN KAMPUS
  • INTERNASIONAL
  • Search
  • Menu Menu

BERMAIN API DENGAN KURIKULUM

Maret 19, 2013/in Warta Utama UAD/by webmaster

Artikel ini di Muat Koran Merapi Pembaharuan 25 Februari 2013

Oleh: Sudaryanto, M.Pd,

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogyakarta

Dalam sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden di Jakarta, Senin (18/2) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar kurikulum baru terus disosialisasikan kepada masyarakat, parlemen, media, serta pihak terkait lainnya. Selain itu, Presiden juga meminta penjelasan dari pihak Kemendikbud mengapa perlu dilakukan penataan dan pengembangan kurikulum. Pertanyaannya, apakah publik sudah menerima penjelasan yang lengkap dari Kemdikbud?

Sejauh ini, penulis menyatakan bahwa publik belum menerima penjelasan yang lengkap dari pihak Kemdikbud. Mendikbud sendiri hanya menjelaskan, kurikulum baru nanti akan bertujuan membangun kemampuan berpikir anak secara ilmiah. Bahkan, Mendikbud begitu yakin bahwa kurikulum baru akan berdampak baik, mengingat banyaknya laboratorium alami yang dapat dieksplorasi oleh anak-anak, baik di kelas maupun luar kelas.

Kemudian, Mendikbud menyoroti kekurangan kurikulum yang berlaku saat ini (baca: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Menurutnya, kurikulum saat ini justru membuat anak-anak malas mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya karena kemampuan berpikir mereka dibelenggu pada hal-hal yang sifatnya biner. Intinya, kata Mendikbud, kurikulum saat ini perlu diubah dengan kurikulum baru atau lebih dikenal dengan Kurikulum 2013.

Jika dicermati, penjelasan Mendikbud di atas sebetulnya bukan hal baru. Artinya, kemalasan anak-anak dalam mengembangkan imajinasi dan kreativitas sudah terjadi sejak lama. Dalam Kurikulum 1994 yang menggunakan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), misalnya, para siswa di semua jenjang pendidikan sudah diarahkan untuk aktif berpikir. Hanya saja, pembelajaran di sekolah tidak menjalankannya dengan baik.

Alih-alih mengarahkan siswa untuk aktif berpikir, justru sebaliknya siswa hanya diminta pasif dan menerima materi apapun dari gurunya di kelas. Bahkan, ada seloroh yang unik, yaitu plesetan ‘CBSA’ (Catat Buku Sampai Abis) atau (Cah Bodoh Soyo Akeh). Munculnya plesetan ini, diakui atau tidak, dapat merefleksikan kondisi bahwa para siswa di kelas saat itu hanya diminta mencatat semua materi yang diberikan oleh guru, tanpa diberikan kesempatan berpikir.

Fenomena kemalasan siswa berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas nyatanya terjadi hingga sekarang. Tak sedikit guru yang mengeluhkan bahwa siswanya malas membaca. Ketika guru menyuruh ke perpustakaan, wajah para siswanya cemberut dan tidak bahagia. Ketika guru memberikan tugas membaca buku tertentu dan meringkasnya, para siswa langsung mencarinya di internet. Artinya, siswa kita memang bertipe malas berpikir dan berimajinasi.

Penulis yakin, pihak Kemdikbud yang diisi oleh orang-orang pintar nan hebat (baca: para guru besar PTN), tidak memiliki ambisi utama bahwa kurikulum baru nanti dapat menjadi ‘obat’ bagi ‘penyakit’ seperti kemalasan guru dan siswa berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas. Di atas semua itu, kurikulum hanya menjadi sarana atau alat untuk menggerakkan para guru dan siswa agar aktif berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas.

Berhasil-tidaknya pembelajaran di sekolah ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya ialah guru. Apabila guru mengajar dengan sepenuh hati dan berinovasi, kelak para siswanya dapat berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas. Sayang, hal ini terabaikan dalam aktivitas pendidikan selama ini. Untuk itu, cukup sudah pemerintah berwacana tentang kurikulum baru yang bermanfaat ini-itu. Jika pemerintah bermain api dengan kurikulum, kita semua yang akan musnah.[]

Artikel ini di Muat Koran Merapi Pembaharuan 25 Februari 2013

Oleh: Sudaryanto, M.Pd,

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogyakarta

Dalam sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden di Jakarta, Senin (18/2) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar kurikulum baru terus disosialisasikan kepada masyarakat, parlemen, media, serta pihak terkait lainnya. Selain itu, Presiden juga meminta penjelasan dari pihak Kemendikbud mengapa perlu dilakukan penataan dan pengembangan kurikulum. Pertanyaannya, apakah publik sudah menerima penjelasan yang lengkap dari Kemdikbud?

Sejauh ini, penulis menyatakan bahwa publik belum menerima penjelasan yang lengkap dari pihak Kemdikbud. Mendikbud sendiri hanya menjelaskan, kurikulum baru nanti akan bertujuan membangun kemampuan berpikir anak secara ilmiah. Bahkan, Mendikbud begitu yakin bahwa kurikulum baru akan berdampak baik, mengingat banyaknya laboratorium alami yang dapat dieksplorasi oleh anak-anak, baik di kelas maupun luar kelas.

Kemudian, Mendikbud menyoroti kekurangan kurikulum yang berlaku saat ini (baca: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Menurutnya, kurikulum saat ini justru membuat anak-anak malas mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya karena kemampuan berpikir mereka dibelenggu pada hal-hal yang sifatnya biner. Intinya, kata Mendikbud, kurikulum saat ini perlu diubah dengan kurikulum baru atau lebih dikenal dengan Kurikulum 2013.

Jika dicermati, penjelasan Mendikbud di atas sebetulnya bukan hal baru. Artinya, kemalasan anak-anak dalam mengembangkan imajinasi dan kreativitas sudah terjadi sejak lama. Dalam Kurikulum 1994 yang menggunakan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), misalnya, para siswa di semua jenjang pendidikan sudah diarahkan untuk aktif berpikir. Hanya saja, pembelajaran di sekolah tidak menjalankannya dengan baik.

Alih-alih mengarahkan siswa untuk aktif berpikir, justru sebaliknya siswa hanya diminta pasif dan menerima materi apapun dari gurunya di kelas. Bahkan, ada seloroh yang unik, yaitu plesetan ‘CBSA’ (Catat Buku Sampai Abis) atau (Cah Bodoh Soyo Akeh). Munculnya plesetan ini, diakui atau tidak, dapat merefleksikan kondisi bahwa para siswa di kelas saat itu hanya diminta mencatat semua materi yang diberikan oleh guru, tanpa diberikan kesempatan berpikir.

Fenomena kemalasan siswa berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas nyatanya terjadi hingga sekarang. Tak sedikit guru yang mengeluhkan bahwa siswanya malas membaca. Ketika guru menyuruh ke perpustakaan, wajah para siswanya cemberut dan tidak bahagia. Ketika guru memberikan tugas membaca buku tertentu dan meringkasnya, para siswa langsung mencarinya di internet. Artinya, siswa kita memang bertipe malas berpikir dan berimajinasi.

Penulis yakin, pihak Kemdikbud yang diisi oleh orang-orang pintar nan hebat (baca: para guru besar PTN), tidak memiliki ambisi utama bahwa kurikulum baru nanti dapat menjadi ‘obat’ bagi ‘penyakit’ seperti kemalasan guru dan siswa berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas. Di atas semua itu, kurikulum hanya menjadi sarana atau alat untuk menggerakkan para guru dan siswa agar aktif berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas.

Berhasil-tidaknya pembelajaran di sekolah ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya ialah guru. Apabila guru mengajar dengan sepenuh hati dan berinovasi, kelak para siswanya dapat berpikir, berimajinasi, dan berkreativitas. Sayang, hal ini terabaikan dalam aktivitas pendidikan selama ini. Untuk itu, cukup sudah pemerintah berwacana tentang kurikulum baru yang bermanfaat ini-itu. Jika pemerintah bermain api dengan kurikulum, kita semua yang akan musnah.[]

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on Pinterest
  • Share on LinkedIn
  • Share on Reddit
  • Share by Mail
http://dev.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-uad-new-3.png 0 0 webmaster http://dev.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-uad-new-3.png webmaster2013-03-19 23:37:522013-03-19 23:37:52BERMAIN API DENGAN KURIKULUM

Temukan Kami

  • Facebook : Universitas Ahmad Dahlan
  • Instagram : @klik_uad
  • twitter : @klik_uad
  • youtube : Universitas Ahmad Dahlan

Instagram

Temukan Kami
#SEMUABISAKULIAHDIUAD
Cari versi terbaikmu di Universitas Ahmad Dahlan
Menjadi dahlan muda dan temukan versi terbaikmu di Universitas Ahmad Dahlan


Daftar Sekarang

Rekognisi

 

Alamat

Kampus I

Kampus I (Rektorat)
Jalan Kapas No. 9, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Kampus I Unit B
Jalan Kapas No. 14, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus II

Kampus II Unit A
Jalan Pramuka No. 42, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Kampus II Unit B
Jalan Pramuka No. 42, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus III

Kampus III
Jalan Prof. Dr. Soepomo, S.H., Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus IV

Kampus IV (Utama)
Jalan Ahmad Yani, Tamanan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55191
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus V

Kampus V
Jalan Ki Ageng Pemanahan No. 19, Sorosutan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55162
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus VI

Kampus VI
Jalan Wates–Purworejo No. 234, Dalangan, Triharjo, Kec. Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55651
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kantor LPP & LSP

Kantor LPP & LSP
Jalan Gondosuli No. 1b, Semaki Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Tak Menyangka Menjadi Mahasiswa dengan Predikat lulusan BerprestasiFAI Perdalam Pemahaman Al-Qur’an dengan Kuliah Umum
Scroll to top