You are here

FAS ke-71: Membaca Kesunyian

Indonesian

Antologi puisi bertajuk Sajak-sajak Sunyi karya Budhi Setyawan dibahas dalam Forum Apresiasi Sastra (FAS) ke-71 pada Rabu (6/9/2017). Antologi yang tersusun dari 72 puisi tersebut dibedah oleh Latief S. Nugraha, penyair sekaligus alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Diselenggarakan di aula kampus 2 UAD, Jalan Pramuka, diskusi tersebut dipimpin oleh Mirja Sentani, mahasiswa PBSI semester 3, sebagai moderator. Diskusi sastra dibuka oleh Fitri Merawati, M.A., mewakili Kepala Program studi (Prodi) yang berhalangan hadir. Fitri menyambut mahasiswa baru yang hadir dalam acara tersebut dengan memperkenalkan budaya apresiasi sastra yang digerilyakan oleh FAS. Ia juga menghimbau audiensi untuk turut aktif dalam diskusi.

Dalam esai pemantik diskusinya, Latief menggarisbawahi bahwa melalui sajak-sajaknya, Budhi Setyawan mencoba “menepi” dari keriuhan eksistensi dan memilih jalan sunyi, yakni esensi. Sajak-sajak Sunyi adalah antologi puisi keempat yang diterbitkan Budhi Setyawan setelah Kepak Jiwa (2006), Penyadaran (2006) dan Sukma Silam (2007). Penyair kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1969 tersebut bergiat di Forum Sastra Bekasi (FBS) sejak 2011. Selain dalam bentuk antologi puisi, karya-karyanya tersebar di beberapa media seperti Horizon, Indopos, dan sejumlah media online.

Selanjutnya, Latief membicarakan keunggulan Budhi Setyawan sebagai seorang penyair yang mampu mendayagunakan setiap momen puitis menjadi puisi. Ia juga mengucapkan selamat kepada Budhi Setyawan atas terbitnya buku antologi puisi tersebut.

“Puisi adalah usaha mengongkretkan hal-hal yang abstrak, bukan mengabstrakkan hal-hal yang konkret. Nah, setelah membaca puisi-puisi dalam antologi ini, Anda sekalian dapat menyimpulkan apakah Budhi Setyawan sebagai penyair berhasil mengongkretkan yang abstrak, atau justru sebaliknya,” tutup Latief. (dev)