Universitas Ahmad Dahlan
  • TENTANG UAD
  • KULIAH DI UAD
  • PENELITIAN & PENGABDIAN
  • KEHIDUPAN KAMPUS
  • INTERNASIONAL
  • Search
  • Menu Menu

Pelajaran Kedewasaan Politik Dari Jokowi-Foke

Oktober 28, 2012/in Warta Utama UAD/by webmaster

Dani Fadillah*

Dani_ikomGubernur DKI Jakarta yang akan segera turuk tahta, Fauzi Bowo dan Gubernur DKI terpilih yang akan segera resmi bertahta, Jokowi, telah memperlihatkan sebuh tuntunan yang bijak pada kita semua. Di detik-detik akhir masa tugasnya, Bang Foke mengundang mas Jokowi ke Balai Kota untuk memperkenalkan orang yang telah mengalahkannya ini kepada seluruh elemen petugas dan pejabat provinsi DKI dengan suasana yang bersahabat. Meskipun mungkin ada, tapi sama sekali tidak terlihat aroma rivalitas diantara mereka berdua pada saat musim pemilihan kemarin. Mereka berdua telah mencontohkan sikap seorang pemimpin yang baik dalam iklim demokrasi.

Kenapa demikian? Karena menurut perhatian penulis, kerap pihak yang menang dalam Pemilu secara terang-terangan terlalu larut dalam kemenangan dan calon yang kalah pun tampak tidak terlalu angkuh untuk menerima kekalahan dan memberikan selamat kepada sang pemenang. Akan tetapi lain dengan keakraban yang dipertontonkan oleh Jokowi-Foke yang ditunjukkan secara terbuka kepada kita semua, ini adalah teladan penting kita semua.

Bagaimanapun kita memandang kinerja Bang Foke selama ini, namun faktanya harus kita akui bahwa dia adalah seseorang yang sangat memahami masyarakat Jakarta, dan bagaimanapun juga harus kita akui bahwa Mas Jokowi adalah “orang baru datang” yang harus belajar pada yang sudah berpengalaman. Sang Gubernur terpilih itu pun tanpa canggung secara terbuka merangkul Foke menjadi rekan untuk menciptakan Ibu Kota negara yang aman dan nyaman. Dapat dikatakan ini adalah budaya politik anggun yang bisa membawa bangsa ini menuju kedewasaan berpolitik.

Harus kita sadari bersama bahwa sepanas apapun setegangan yang muncul antara para kandidat yang bersaing dalam Pemilu harus segera berakhir ketika telah melahirkan seorang pemenang, kemudian saling bersalaman dan bersilaturahmi dalam suasana yang berkekeluargaan, sikap ini akan menimulkan sebuah energi positif bagi masyarakat yang dipimpin.

Sikap rendah hati pada diri kontestan Pemilu yang menang serta sikap besar hati untuk menerima kekalahan bagi kontestan yang kalah mengandung makna yang dalam bagi demokrasi. Para kontestan Pemilu baik yang menang maupun yang kalah harus terus berdiskusi guna menemukan jalan keluar bagi masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Sikap kebersamaan sesama pemimpin adalah sebuah taulada unggulan pada para staff dan warga yang mereka dipimpi, dan sikap saling bermusuhan antar pimpinan akan menular pada para staff serta kepada masyarakat yang mereka pimpin.

Mau jadi seperti apa akhirnya negeri ini jika seandainya sifat saling sikut dan saling serang menjadi budaya pada saat musim kompetisi Politik (Pemilu) telah berakhir? Mas Jokowi dan Bang Foke tengah mencontohkan bahwa seorang pemimpin harus tetap mengedepankan sikap seorang negarawan apapun yang terjadi. Utamakan panggilan tugas dari negara untuk kepentingan masyarakat dan tinggalkan kepentingan pribadi serta kelompok. Bukankah akan sangat menentramkan hati jika dalam Pemili-pemulu lainnya, baik level daerah maupun nasional iklim kekeluargaan sebagaimana yang dipertontonkan oleh Jokowi-Foke ini bisa terbangun juga.

Tidak selamanya Politik terpraktikkan dalam wujud transaksional, karena pada hakikatnya Politik adalah pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa pamrih. Mungkin kalimat ini terkesan naif, namun bukankah memang seharusnya demikian?

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan,

Pemerhati Komunikasi Politik

Dani Fadillah*

Dani_ikomGubernur DKI Jakarta yang akan segera turuk tahta, Fauzi Bowo dan Gubernur DKI terpilih yang akan segera resmi bertahta, Jokowi, telah memperlihatkan sebuh tuntunan yang bijak pada kita semua. Di detik-detik akhir masa tugasnya, Bang Foke mengundang mas Jokowi ke Balai Kota untuk memperkenalkan orang yang telah mengalahkannya ini kepada seluruh elemen petugas dan pejabat provinsi DKI dengan suasana yang bersahabat. Meskipun mungkin ada, tapi sama sekali tidak terlihat aroma rivalitas diantara mereka berdua pada saat musim pemilihan kemarin. Mereka berdua telah mencontohkan sikap seorang pemimpin yang baik dalam iklim demokrasi.

Kenapa demikian? Karena menurut perhatian penulis, kerap pihak yang menang dalam Pemilu secara terang-terangan terlalu larut dalam kemenangan dan calon yang kalah pun tampak tidak terlalu angkuh untuk menerima kekalahan dan memberikan selamat kepada sang pemenang. Akan tetapi lain dengan keakraban yang dipertontonkan oleh Jokowi-Foke yang ditunjukkan secara terbuka kepada kita semua, ini adalah teladan penting kita semua.

Bagaimanapun kita memandang kinerja Bang Foke selama ini, namun faktanya harus kita akui bahwa dia adalah seseorang yang sangat memahami masyarakat Jakarta, dan bagaimanapun juga harus kita akui bahwa Mas Jokowi adalah “orang baru datang” yang harus belajar pada yang sudah berpengalaman. Sang Gubernur terpilih itu pun tanpa canggung secara terbuka merangkul Foke menjadi rekan untuk menciptakan Ibu Kota negara yang aman dan nyaman. Dapat dikatakan ini adalah budaya politik anggun yang bisa membawa bangsa ini menuju kedewasaan berpolitik.

Harus kita sadari bersama bahwa sepanas apapun setegangan yang muncul antara para kandidat yang bersaing dalam Pemilu harus segera berakhir ketika telah melahirkan seorang pemenang, kemudian saling bersalaman dan bersilaturahmi dalam suasana yang berkekeluargaan, sikap ini akan menimulkan sebuah energi positif bagi masyarakat yang dipimpin.

Sikap rendah hati pada diri kontestan Pemilu yang menang serta sikap besar hati untuk menerima kekalahan bagi kontestan yang kalah mengandung makna yang dalam bagi demokrasi. Para kontestan Pemilu baik yang menang maupun yang kalah harus terus berdiskusi guna menemukan jalan keluar bagi masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Sikap kebersamaan sesama pemimpin adalah sebuah taulada unggulan pada para staff dan warga yang mereka dipimpi, dan sikap saling bermusuhan antar pimpinan akan menular pada para staff serta kepada masyarakat yang mereka pimpin.

Mau jadi seperti apa akhirnya negeri ini jika seandainya sifat saling sikut dan saling serang menjadi budaya pada saat musim kompetisi Politik (Pemilu) telah berakhir? Mas Jokowi dan Bang Foke tengah mencontohkan bahwa seorang pemimpin harus tetap mengedepankan sikap seorang negarawan apapun yang terjadi. Utamakan panggilan tugas dari negara untuk kepentingan masyarakat dan tinggalkan kepentingan pribadi serta kelompok. Bukankah akan sangat menentramkan hati jika dalam Pemili-pemulu lainnya, baik level daerah maupun nasional iklim kekeluargaan sebagaimana yang dipertontonkan oleh Jokowi-Foke ini bisa terbangun juga.

Tidak selamanya Politik terpraktikkan dalam wujud transaksional, karena pada hakikatnya Politik adalah pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa pamrih. Mungkin kalimat ini terkesan naif, namun bukankah memang seharusnya demikian?

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan,

Pemerhati Komunikasi Politik

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on Pinterest
  • Share on LinkedIn
  • Share on Reddit
  • Share by Mail
http://dev.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-uad-new-3.png 0 0 webmaster http://dev.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-uad-new-3.png webmaster2012-10-28 00:52:582012-10-28 00:52:58Pelajaran Kedewasaan Politik Dari Jokowi-Foke

Temukan Kami

  • Facebook : Universitas Ahmad Dahlan
  • Instagram : @klik_uad
  • twitter : @klik_uad
  • youtube : Universitas Ahmad Dahlan

Instagram

Temukan Kami
#SEMUABISAKULIAHDIUAD
Cari versi terbaikmu di Universitas Ahmad Dahlan
Menjadi dahlan muda dan temukan versi terbaikmu di Universitas Ahmad Dahlan


Daftar Sekarang

Rekognisi

 

Alamat

Kampus I

Kampus I (Rektorat)
Jalan Kapas No. 9, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Kampus I Unit B
Jalan Kapas No. 14, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus II

Kampus II Unit A
Jalan Pramuka No. 42, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Kampus II Unit B
Jalan Pramuka No. 42, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus III

Kampus III
Jalan Prof. Dr. Soepomo, S.H., Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus IV

Kampus IV (Utama)
Jalan Ahmad Yani, Tamanan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55191
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus V

Kampus V
Jalan Ki Ageng Pemanahan No. 19, Sorosutan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55162
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kampus VI

Kampus VI
Jalan Wates–Purworejo No. 234, Dalangan, Triharjo, Kec. Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55651
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id

Kantor LPP & LSP

Kantor LPP & LSP
Jalan Gondosuli No. 1b, Semaki Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]uad.ac.id
Pengajaran Sastra Di Sekolah, Jangan Hanya Bersifat ReseptipRektor UAD Menjadi Imam dan Khotib di XT Square
Scroll to top